WMO Peringatkan Cadangan Air Tawar Terus Menyusut
8beritanews.com - Siklus Air Dunia semakin tidak menentu, bergerak antara kekeringan dan banjir, sementara cadangan air tawar di daratan terus menyusut.
Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan, kondisi ini dapat memperbesar risiko krisis air bagi manusia dan ekonomi pada masa mendatang.
Dalam laporan terbaru State of Global Water Resources 2025 yang dirilis Kamis (17/9/2026), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, 2025 sebagai salah satu tahun terkering bagi aliran sungai global dalam lebih dari tiga dekade.
Selama tujuh tahun terakhir, jumlah daerah aliran sungai dengan kondisi aliran normal juga berada pada titik terendah sejak 1991.
Laporan tersebut menunjukkan, hanya 34–38 persen daerah aliran sungai dunia yang mengalami kondisi normal setiap tahun selama periode tujuh tahun terakhir.
Angka itu jauh di bawah rata-rata 46 persen pada periode 1991–2020.
Pada 2025, sekitar 36 persen wilayah cekungan sungai dunia mengalami debit di bawah normal.
Sebaliknya, sekitar 21 persen mengalami debit di atas normal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah air dunia bukan semata kekurangan air, melainkan semakin sulitnya memprediksi di mana dan kapan air tersedia dalam jumlah yang dibutuhkan.
”Air tidak mengenal batas negara,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. Menu rut dia, keseimbangan air sebuah daerah aliran sungai dapat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di wilayah hulu, bahkan di negara lain.
Perubahan paling mengkhawatirkan, menurut WMO, bukan hanya pada hujan, kelembaban tanah, dan aliran sungai yang dapat berubah dalam hitungan hari atau minggu.
Cadangan air yang bergerak lebih lambat, seperti air tanah, gletser, dan salju musiman, juga terus menyusut.
Penyimpanan air daratan, yang mencakup air tanah, danau, sungai, kelembaban tanah, vegetasi, salju, dan es, menunjukkan tren penurunan sejak sekitar 2014–2016. Penurunan itu berlangsung selama sekitar satu dekade.
*8beritanews.com
Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan, kondisi ini dapat memperbesar risiko krisis air bagi manusia dan ekonomi pada masa mendatang.
Dalam laporan terbaru State of Global Water Resources 2025 yang dirilis Kamis (17/9/2026), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, 2025 sebagai salah satu tahun terkering bagi aliran sungai global dalam lebih dari tiga dekade.
Selama tujuh tahun terakhir, jumlah daerah aliran sungai dengan kondisi aliran normal juga berada pada titik terendah sejak 1991.
Laporan tersebut menunjukkan, hanya 34–38 persen daerah aliran sungai dunia yang mengalami kondisi normal setiap tahun selama periode tujuh tahun terakhir.
Angka itu jauh di bawah rata-rata 46 persen pada periode 1991–2020.
Pada 2025, sekitar 36 persen wilayah cekungan sungai dunia mengalami debit di bawah normal.
Sebaliknya, sekitar 21 persen mengalami debit di atas normal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah air dunia bukan semata kekurangan air, melainkan semakin sulitnya memprediksi di mana dan kapan air tersedia dalam jumlah yang dibutuhkan.
”Air tidak mengenal batas negara,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo. Menu rut dia, keseimbangan air sebuah daerah aliran sungai dapat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di wilayah hulu, bahkan di negara lain.
Perubahan paling mengkhawatirkan, menurut WMO, bukan hanya pada hujan, kelembaban tanah, dan aliran sungai yang dapat berubah dalam hitungan hari atau minggu.
Cadangan air yang bergerak lebih lambat, seperti air tanah, gletser, dan salju musiman, juga terus menyusut.
Penyimpanan air daratan, yang mencakup air tanah, danau, sungai, kelembaban tanah, vegetasi, salju, dan es, menunjukkan tren penurunan sejak sekitar 2014–2016. Penurunan itu berlangsung selama sekitar satu dekade.
*8beritanews.com