8beritanews
8beritanews portal berita terpercaya

Perdebatan Intelektual Budayawan dan Ahli Filsapat Indonesia.

Perdebatan Intelektual Budayawan dan Ahli Filsapat Indonesia.
Opini - Percakapan singkat antara Budayawan Sujiwo Tejo dengan Ahli Filsapat Rocky Gerung tampak seperti guyonan, tetapi sebenarnya memuat kritik sosial yang sangat tajam.

Sujiwo Tejo mengingatkan bahwa pemikiran yang hebat tidak cukup jika hanya hidup di dunia konsep, teori, dan perdebatan intelektual.

Hidup, menurutnya, harus bersentuhan dengan tanah, manusia, dan kenyataan sehari-hari. Kritik semacam ini sering ditujukan kepada para filsuf dan intelektual yang dianggap terlalu sibuk menjelaskan dunia, tetapi kurang terlibat dalam realitas yang dialami masyarakat.

Jawaban Rocky Gerung mengubah arah kritik tersebut. Ia tidak membantah bahwa dirinya hidup “di atas kertas”, tetapi justru mempertanyakan kehidupan mereka yang mengaku hidup “di atas bumi”.

Sindiran tentang amplop merujuk pada budaya suap, transaksi kepentingan, dan pragmatisme yang sering menyusupi dunia nyata.

Dengan kata lain, Rocky seolah mengatakan bahwa realitas yang dibanggakan itu sendiri sudah terlalu kotor untuk dijadikan ukuran kebenaran.

Jika teori dianggap jauh dari kenyataan, maka kenyataan yang korup juga tidak otomatis lebih bermakna daripada teori.

Di sini muncul pertentangan filosofis antara idealisme dan pragmatisme.

Sujiwo Tejo mewakili pandangan bahwa gagasan harus diuji oleh pengalaman konkret.

Rocky mewakili keyakinan bahwa tanpa gagasan dan prinsip, manusia mudah tenggelam dalam kompromi-kompromi yang merusak.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari orang-orang yang awalnya dianggap terlalu teoritis.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa teori yang tidak pernah menyentuh kehidupan nyata sering berubah menjadi menara gading yang kehilangan relevansi.

Karena itu, inti percakapan ini bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan tentang ketegangan abadi antara pikiran dan kenyataan.

Dunia membutuhkan orang yang berpikir agar tidak tersesat dalam kepentingan sesaat.

Tetapi dunia juga membutuhkan orang yang turun ke lapangan agar gagasan tidak mengambang di udara.

Masalahnya muncul ketika teori terpisah dari realitas, atau ketika realitas sepenuhnya dikuasai oleh amplop.

Sebab masyarakat yang hanya memiliki pemikir akan kehilangan tindakan, sementara masyarakat yang hanya memiliki pelaku tanpa gagasan akan mudah menjual nuraninya kepada siapa pun yang membayar lebih mahal.

Penulis :dwi syahputra.

*8beritanews.com