8beritanews
8beritanews portal berita terpercaya

Pemulung Bisakah Hidup Diatas Standar Kelayakan ?

Pemulung Bisakah Hidup Diatas Standar Kelayakan ?
Pemulung yang disebut juga pekerja non formal di Indonesia tercatat mencapai sekitar 4,2 juta jiwa berdasarkan data Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin). Mayoritas dari mereka hidup di bawah standar kelayakan.

Mereka juga sering kali dipandang sebelah mata oleh publik. Saat mendatangi suatu lokasi untuk mengais sampah, mereka kerap diusir karena dianggap mengganggu ketertiban.

Padahal, merekalah pekerja lapangan yang berperan nyata dalam menyelamatkan bumi. Mereka memilah sampah organik dan anorganik yang sudah tercampur di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), lalu menyalurkannya ke rantai daur ulang. Sistem ekonomi sirkular yang baru populer beberapa tahun terakhir sebenarnya telah mereka praktikkan sejak lama secara mandiri.

Namun, perubahan cara pandang mulai terjadi seiring perkembangan zaman. Kini, banyak lembaga mulai menaruh perhatian terhadap para pekerja sektor informal ini. Alih-alih meminggirkan, lembaga-lembaga tersebut mulai mengajak mereka bekerja sama dalam pengumpulan sampah anorganik untuk didaur ulang secara profesional sebagai langkah pengurangan timbulan sampah nasional.

Langkah ini bukan sekadar upaya mengelola sampah, melainkan juga membangun sistem yang lebih inklusif. Para pekerja sektor informal dipandang sebagai garda terdepan dalam rantai pasok daur ulang karena mereka mampu menjangkau sampah yang sulit terpilah di tingkat rumah tangga agar dapat digunakan kembali.

Upaya ini juga bertujuan memastikan para pekerja memiliki hidup yang lebih layak melalui berbagai program pendampingan, mulai dari fasilitas kesehatan hingga pendidikan. Salah satu fokus utamanya adalah mengubah sebutan mereka menjadi pahlawan lingkungan (colletion heroes) guna meningkatkan martabat mereka di masyarakat.

Sejak Oktober 2025, salah satu yayasan yang fokus pada isu ini, Mahija Parahita Nusantara, melaksanakan proyek “Recycle Me Zone” untuk meningkatkan taraf hidup para pemulung. Program ini mengintegrasikan pengelolaan sampah organik sebagai jalur baru menuju ketahanan ekonomi bagi para pekerja sektor informal.

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Mahija Foundation bersama Coca-Cola Europacific Partners Indonesia memperkenalkan program yang telah berjalan di Duren Sawit, Jakarta Timur, sebagai lokasi proyek percontohan.

“Dengan mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos serta pakan ternak alternatif, mereka tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi rumah tangga mereka,” tutur Ardhina Zaiza, Ketua Yayasan Mahija Foundation.

Selain sampah anorganik, pengelolaan sampah organik kini menjadi fokus untuk meningkatkan ketahanan pangan pekerja. Hal ini terbukti dari adanya peningkatan pemasukan para ibu yang mengelola sampah di Recycle Me Zone sebesar kurang lebih Rp150.000 per bulan.

Di area ini, tersedia fasilitas budidaya maggot, ayam, ikan, hingga tanaman hidroponik. Budidaya maggot memanfaatkan sampah organik dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menghasilkan 30–40 kg sampah setiap hari. Maggot tersebut kemudian dijual atau dijadikan pakan ternak. Hasilnya, seperti telur ayam, dijual kepada warga dengan harga di bawah pasar, sementara ikan didistribusikan ke warung makan sekitar.

Proyek percontohan ini direncanakan berlangsung hingga Maret 2026. Harapannya, model ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia agar para pekerja mampu mengelola sampah secara mandiri serta memperkuat ketahanan ekonomi mereka.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilakukan pemberian paket Ramadan kepada para pekerja di kawasan Recycle Me Zone dan 36 titik lokasi mitra lainnya. Melalui program "Ramadan Berbagi", disalurkan total 1.100 paket kebutuhan pokok dan 3.300 paket makanan untuk memperkuat rasa kebersamaan di antara para pejuang kebersihan ini.

“Upaya ini menunjukkan bahwa penguatan komunitas dan praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab harus berjalan beriringan,” tutup Ardhina.

*8beritanews.com / (National Geographig)