Membangun Instalasi Air Hujan Cara Warga Menghadapi Musim Kemarau.
Yogyakarta - Warga Kelurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta, mulai memanfaatkan air hujan yang turun di ujung musim penghujan awal April. Dengan begitu, mereka tak perlu khawatir memenuhi kebutuhan minum tahun ini.
Desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa.
Warga yakin cara ini bisa membantu mereka hadapi kemarau.Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut.
Perubahan tata ruang, terutama karena pembangunan Jalur Lintas Selatan dari Banten hingga Jawa Timur yang mengenai kawasan bebatuan Gunungkidul, menyebabkan mata air yang ada turut susut termasuk telaga yang jadi pasokan utamanya.
“Kami memprediksi berdasarkan penanggalan tradisional titimangsa kalau kemarau tahun ini jadi lebih panjang waktunya. Makanya membangun instalasi dengan air yang siap konsumsi karena ini yang paling penting” kata Purwanta, Carik Kalurahan Balong.
Wilayah di ujung selatan Gunungkidul ini membangun instalasi pemanen air hujan pada Desember 2025. Tujuannya, meminimalisasi krisis air yang berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Hampir tidak ada sumur di wilayah itu karena kontur yang seluruhnya kawasan bebatuan.
“Pernah dua kali membangun sumur bor bantuan dari pemerintah, sudah mengebor sampai 100 meter tetap tidak ada air,” kata Purwanta, Sekretaris Kalurahan Balong.
Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut. Dengan sistem panen hujan itu, Purwanta yakin kebutuhan air saat kemarau dapat lebih teratasi.
Air siap konsumsi yang sudah terkumpul itu sekitar 5 juta liter cukup untuk kebutuhan minum 4.003 penduduk di sana.
*8beritanews.com
Desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa.
Warga yakin cara ini bisa membantu mereka hadapi kemarau.Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut.
Perubahan tata ruang, terutama karena pembangunan Jalur Lintas Selatan dari Banten hingga Jawa Timur yang mengenai kawasan bebatuan Gunungkidul, menyebabkan mata air yang ada turut susut termasuk telaga yang jadi pasokan utamanya.
“Kami memprediksi berdasarkan penanggalan tradisional titimangsa kalau kemarau tahun ini jadi lebih panjang waktunya. Makanya membangun instalasi dengan air yang siap konsumsi karena ini yang paling penting” kata Purwanta, Carik Kalurahan Balong.
Wilayah di ujung selatan Gunungkidul ini membangun instalasi pemanen air hujan pada Desember 2025. Tujuannya, meminimalisasi krisis air yang berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Hampir tidak ada sumur di wilayah itu karena kontur yang seluruhnya kawasan bebatuan.
“Pernah dua kali membangun sumur bor bantuan dari pemerintah, sudah mengebor sampai 100 meter tetap tidak ada air,” kata Purwanta, Sekretaris Kalurahan Balong.
Kebiasaan menampung air hujan ini sendiri terbentuk sejak ratusan tahun lalu oleh leluhur di desa tersebut. Dengan sistem panen hujan itu, Purwanta yakin kebutuhan air saat kemarau dapat lebih teratasi.
Air siap konsumsi yang sudah terkumpul itu sekitar 5 juta liter cukup untuk kebutuhan minum 4.003 penduduk di sana.
*8beritanews.com