8beritanews
8beritanews portal berita terpercaya

Keberhasilan Revolusi Olahraga Tepok Bulu Negara Prancis.

Keberhasilan Revolusi Olahraga Tepok Bulu Negara Prancis.
Olahraga - TIM bulutangkis Prancis mencetak sejarah di Piala Thomas. Negara yang sebelumnya tak pernah dipandang, apalagi masuk sebagai negara top bulutangkis itu menumbangkan Indonesia 4-1 di pertandingan terakhir penyisihan Grup D pada 28 April 2026.

Hasil tersebut mencoreng wajah perbulutangkisan Indonesia selaku pemegang terbanyak Piala Thomas.

Untuk pertamakalinya, Indonesia gagal lolos dari penyisihan grup dalam turnamen edisi ke-31 itu yang digelar di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei 2026.

Apa yang ditampilkan Prancis bukan kebetulan. Di perempatfinal, mereka menyingkirkan Jepang (3-0), lalu India di semifinal (3-0). Meski harus puas jadi finalis setelah kalah 1-3 dari China di partai puncak, Prancis telah membuat gebrakan dan meruntuhkan dominasi Denmark di Eropa.

Tim Prancis baru turut dalam Kejuaraan Beregu Eropa pada 1982 dan Piala Sudirman di tahun 1989. Tim putra mereka juga baru bisa menembus putaran final Piala Thomas mulai 2014, sementara tim putrinya baru tampil di putaran final Piala Uber sejak 2018.

Baru belakangan ini “Revolusi Prancis” tampak. Bersamaan dengan kebangkitan Bulgaria, Prancis mulai meruntuhkan dominasi Denmark di belantika bulutangkis Eropa.

Di Kejuaraan Eropa 2025, Alex Lanier (tunggal putra) dan Christo Popov/Toma Junior Popov (ganda putra) keluar sebagai juara. Christo Popov bergiliran jadi juara tunggal putra tahun ini. Untuk pertamakalinya pula tim Prancis menundukkan Denmark dan jadi juara di Kejuaraan Beregu Eropa 2026. Ganda campuran Thom Gicquel/Delphine Delrue juga jadi wakil Prancis pertama yang mampu menembus final All-England 2026.

Prestasi Prancis di berbagai level yunior melejit sejak 2023 dan di level top pada 2025. Di antara banyak faktor penyebabnya, terpenting adalah program jangka panjang satu dekade silam yang dijalani FFBaD dan pemerintahnya.

Program tersebut mengubah fundamental, mulai dari mindset yang menganggap bulutangkis olahraga hobi jadi kultur olahraga kompetitif yang high-performance hingga selektif mencari pelatih-pelatih asing berpengalaman, dan sistem pelajar-atlet. Yang terakhir amat berpengaruh dalam menumbuhkan jumlah pemain, dari sekitar 7.000 pada akhir 1970-an menjadi 250 ribu atlet di tahun 2025. Lalu, pendanaan besar dalam hal infrastruktur dengan pelatihan intens berbasis AI.

“Dalam jangka waktu begitu lama, kami membangun kultur performa. Itu yang jadi tantangan terbesar dan kami telah melakukannya. Satu indikator dalam pertumbuhannya adalah kemunculan banyak klub. Hari ini, kami punya lebih dari 2.000 klub yang tadinya mungkin hanya sekitar 100. Selangkah demi selangkah, target kami masuk ke delapan negara top bulutangkis. Olimpiade berikutnya pada 2028 di Los Angeles mungkin jadi periode terbaik para pemain kami,” tandas Cyrille Gombrowicz, direktur teknik FFBaD kepada Channel News Asia, 26 Februari 2026 lalu.

*8beritanews.com