Baharudin Lopa Jaksa Agung Berani dan Sederhana.
Berita Redaksi - Masih ingat Jaksa Agung di Jaman Presiden Gus Dur, Hanya sebulan setelah dilantik, Baharuddin Lopa langsung bergerak cepat dan dahsyat.
Tanpa ragu, ia memburu sejumlah konglomerat besar yang berada di luar negeri.
Sjamsul Nursalim yang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang berada di Singapura diminta segera kembali ke Jakarta untuk menghadapi proses hukum.
Langkah tegasnya tidak berhenti di situ, Lopa juga mengeluarkan keputusan pencekalan terhadap konglomerat Marimutu Sinivasan agar tidak meninggalkan Indonesia.
Di saat yang sama, Sejumlah nama berpengaruh seperti Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid ikut diperiksa keterkaitannya dalam berbagai dugaan perkara korupsi.
Bersama para staf ahlinya, Lopa dikenal bekerja tanpa mengenal waktu. Aktivitasnya sering baru berakhir pukul 23.00 setiap malam demi menuntaskan penanganan kasus-kasus besar.
Namun di tengah kesibukan, tekanan, dan rentetan ancaman pembunuhan yang terus menghantuinya, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun.
Tepat satu bulan pula setelah resmi dilantik, Baharuddin Lopa jatuh sakit secara tiba-tiba hingga akhirnya meninggal dunia saat berada di tanah suci.
Pada masa itu, muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Bagi banyak orang, kombinasi “racun” dan “luar negeri” menjadi narasi yang sering dikaitkan dengan kematian sejumlah tokoh yang dikenal melawan kepentingan besar.
Meski demikian, dugaan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum dan tetap berada dalam ranah pemikiran publik.
*8beritanews.com
Tanpa ragu, ia memburu sejumlah konglomerat besar yang berada di luar negeri.
Sjamsul Nursalim yang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang berada di Singapura diminta segera kembali ke Jakarta untuk menghadapi proses hukum.
Langkah tegasnya tidak berhenti di situ, Lopa juga mengeluarkan keputusan pencekalan terhadap konglomerat Marimutu Sinivasan agar tidak meninggalkan Indonesia.
Di saat yang sama, Sejumlah nama berpengaruh seperti Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid ikut diperiksa keterkaitannya dalam berbagai dugaan perkara korupsi.
Bersama para staf ahlinya, Lopa dikenal bekerja tanpa mengenal waktu. Aktivitasnya sering baru berakhir pukul 23.00 setiap malam demi menuntaskan penanganan kasus-kasus besar.
Namun di tengah kesibukan, tekanan, dan rentetan ancaman pembunuhan yang terus menghantuinya, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun.
Tepat satu bulan pula setelah resmi dilantik, Baharuddin Lopa jatuh sakit secara tiba-tiba hingga akhirnya meninggal dunia saat berada di tanah suci.
Pada masa itu, muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Bagi banyak orang, kombinasi “racun” dan “luar negeri” menjadi narasi yang sering dikaitkan dengan kematian sejumlah tokoh yang dikenal melawan kepentingan besar.
Meski demikian, dugaan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum dan tetap berada dalam ranah pemikiran publik.
*8beritanews.com