8beritanews
8beritanews portal berita terpercaya

Anggota DPR RI Usulkan Bangun 1000 Bioskop Desa dari Dana APBN.

Anggota DPR RI Usulkan Bangun 1000 Bioskop Desa dari Dana APBN.
Nasional - Panggung sinema nasional mendadak riuh, bukan karena peluncuran film box office terbaru, melainkan karena sebuah usulan berani yang lahir dari gedung parlemen.

Bayangkan sebuah sore di pelosok desa, warga tidak lagi berkumpul di depan televisi tabung atau layar ponsel yang kecil, melainkan duduk bersama di dalam bioskop modern yang dibangun tepat di jantung desa mereka.

Wacana ambisius ini mencuat setelah anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahmawati, mengusulkan pembangunan 1.000 bioskop desa yang didanai oleh APBN 2027.

Usulan ini disampaikan dalam rapat kerja yang membahas peta jalan kreativitas dan distribusi film nasional.

Namun, di balik benderangnya layar bioskop yang dibayangkan, muncul perdebatan hangat apakah ini sebuah lompatan besar untuk budaya, atau justru salah menetapkan skala prioritas?

Selama ini, distribusi film nasional kerap menghadapi dinding tebal bernama sentralisasi.

Bioskop-bioskop megah didominasi oleh kota-kota besar, sementara masyarakat di wilayah pelosok sering kali harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk menikmati sebuah karya sinematik.

Ada dua misi utama yang diusung dalam usulan megaproyek ini,
Pemerataan Akses Hiburan membuka gerbang bagi masyarakat desa untuk menikmati film nasional dengan kualitas yang layak secara merata.

Ruang Tumbuh Sineas Lokal menjadi wadah bagi rumah produksi (production house) skala kecil di daerah yang selama ini kesulitan menembus jaringan bioskop raksasa.

Tak hanya mengusulkan fisik bangunan, Rahmawati juga menekankan pentingnya insentif fiskal bagi PH kecil di daerah.

Langkah ini diharapkan bisa menjadi stimulus agar roda industri kreatif di tingkat akar rumput bisa berputar lebih cepat dan mandiri.

Gagasan ini langsung memicu gelombang diskusi di jagat maya.

Di satu sisi, banyak pihak menyambut baik rencana ini dengan nada optimis. Mereka menilai bioskop desa bisa menjelma menjadi pusat ekonomi kreatif baru, menghidupkan UMKM di sekitar lokasi, sekaligus memberikan alternatif hiburan yang sehat bagi warga desa.

Namun, di sisi lain, nada skeptis juga bergaung tidak kalah lantang.

Di tengah dinamika ekonomi, publik mulai mempertanyakan urgensi alokasi APBN untuk sektor hiburan.

"Apakah bioskop lebih mendesak daripada perbaikan gedung sekolah yang rusak, fasilitas puskesmas yang minim, atau akses jalan desa yang masih berbatu?" tulis salah satu opini yang banyak diamini di media sosial.

Kekhawatiran mengenai efektivitas pengelolaan dan pemeliharaan jangka panjang juga mengemuka.

Publik tidak ingin proyek ini berakhir menjadi bangunan mangkrak yang sepi peminat setelah masa anggaran selesai.

Membangun 1.000 bioskop desa jelas bukan perkara membalikkan telapak tangan.

Anggaran APBN 2027 masih dalam tahap perencanaan, artinya ruang untuk mematangkan konsep ini masih sangat terbuka lebar.

Jika usulan ini ingin dieksekusi dengan matang, pemerintah dan DPR perlu merumuskan cetak biru yang transparan.

Mulai dari pemetaan desa yang benar-benar siap secara ekosistem, kolaborasi dengan komunitas film lokal agar kontennya tetap hidup, hingga memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat di desa tersebut memang sudah terpenuhi dengan baik.

Layar sudah mulai dibentangkan, kini tinggal bagaimana para pemangku kebijakan meramu skenarionya apakah proyek ini akan menjadi akhir yang bahagia (happy ending) bagi industri kreatif, atau sekadar melodrama anggaran yang berlalu begitu saja?

Sumber :kepoindunia.
*8beritanews.com