32 tahun Mengabdi di Militer Sang Jenderal tumbang Mengurus MBG.
Jakarta - Di dunia militer, nama Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung adalah simbol napas panjang dan kesetiaan mutlak kepada negara.
Menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di medan operasi bersuhu panas hingga menyandang berbagai bintang kehormatan, rekam jejaknya nyaris tanpa cela.
Namun, siapa sangka, "napas panjang" sang jenderal lapangan justu harus terhenti dalam waktu relatif singkat saat mengurus persoalan gizi nasional.
Pada Selasa (2/6/2026), Presiden Prabowo Subianto resmi merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).
Salah satu nama besar yang ikut tersapu dalam perombakan tersebut adalah Lodewyk Pusung, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan sejak Oktober 2024.
Lulusan Akademi Militer (AKABRI) tahun 1985 ini telah kenyang makan asam garam di berbagai wilayah operasi krusial Indonesia, mulai dari Timor Timur, Kesetiaan dan ketangguhannya diakui negara.
Pada tahun 2018, ia dianugerahi Satyalancana Kesetiaan XXXII Tahun, sebuah medali yang menjadi bukti sahih pengabdian tanpa putus selama lebih dari 32 tahun di institusi militer.
Tak hanya loyal, Lodewyk juga berprestasi gemilang. Sepanjang karirnya, ia sukses menduduki posisi-posisi strategis, di antaranya:
Kasdam VI/Mulawarman (2014)
Pangdivif I Kostrad (2015)
Pangdam I/Bukit Barisan (2015)
Asops Panglima TNI (2017)
Bahkan, pada tahun 2015, ia memborong tiga bintang kehormatan sekaligus: Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, dan Bintang Yudha Dharma Nararya.
Deretan Satyalancana lain seperti Bantala (2015) hingga Wira Nusa (2017) juga memenuhi dada seragamnya.
Meski memiliki insting tajam sebagai "otak" operasi militer (Asops) dan jenderal lapangan, tantangan birokrasi di meja Badan Gizi Nasional nyatanya menghadirkan medan tempur yang berbeda.
Tugas mengurus Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan ternyata tak semudah meracik taktik di lapangan.
Pencopotan Letjen Lodewyk Pusung menjadi catatan sejarah yang unik di era pemerintahan ini.
Tiga dekade lebih ia berdiri kokoh menjaga kedaulatan negara lewat moncong senjata, namun karir birokrasinya harus tumbang di usia 1,5 tahun saat menghadapi peliknya urusan pemenuhan gizi masyarakat.
*8beritanews.com
sumber : suara.com
Menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di medan operasi bersuhu panas hingga menyandang berbagai bintang kehormatan, rekam jejaknya nyaris tanpa cela.
Namun, siapa sangka, "napas panjang" sang jenderal lapangan justu harus terhenti dalam waktu relatif singkat saat mengurus persoalan gizi nasional.
Pada Selasa (2/6/2026), Presiden Prabowo Subianto resmi merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).
Salah satu nama besar yang ikut tersapu dalam perombakan tersebut adalah Lodewyk Pusung, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan sejak Oktober 2024.
Lulusan Akademi Militer (AKABRI) tahun 1985 ini telah kenyang makan asam garam di berbagai wilayah operasi krusial Indonesia, mulai dari Timor Timur, Kesetiaan dan ketangguhannya diakui negara.
Pada tahun 2018, ia dianugerahi Satyalancana Kesetiaan XXXII Tahun, sebuah medali yang menjadi bukti sahih pengabdian tanpa putus selama lebih dari 32 tahun di institusi militer.
Tak hanya loyal, Lodewyk juga berprestasi gemilang. Sepanjang karirnya, ia sukses menduduki posisi-posisi strategis, di antaranya:
Kasdam VI/Mulawarman (2014)
Pangdivif I Kostrad (2015)
Pangdam I/Bukit Barisan (2015)
Asops Panglima TNI (2017)
Bahkan, pada tahun 2015, ia memborong tiga bintang kehormatan sekaligus: Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, dan Bintang Yudha Dharma Nararya.
Deretan Satyalancana lain seperti Bantala (2015) hingga Wira Nusa (2017) juga memenuhi dada seragamnya.
Meski memiliki insting tajam sebagai "otak" operasi militer (Asops) dan jenderal lapangan, tantangan birokrasi di meja Badan Gizi Nasional nyatanya menghadirkan medan tempur yang berbeda.
Tugas mengurus Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan ternyata tak semudah meracik taktik di lapangan.
Pencopotan Letjen Lodewyk Pusung menjadi catatan sejarah yang unik di era pemerintahan ini.
Tiga dekade lebih ia berdiri kokoh menjaga kedaulatan negara lewat moncong senjata, namun karir birokrasinya harus tumbang di usia 1,5 tahun saat menghadapi peliknya urusan pemenuhan gizi masyarakat.
*8beritanews.com
sumber : suara.com